Kebimbangan Membawa Tragedi


Ardi dan Meli yaitu suami istri yang hidup dari berjualan gorengan di SDN Tulung Harapan. Gorengan yang dijual Ardi dan Meli sangat laku alasannya yaitu minyak goreng yang dipakai yaitu minyak goreng kemasan yang harganya mahal hasil 3 kali penyaringan. Dari hasil berjualan gorengan ini mereka sanggup mencukupi kebutuhan hidup sehari hari. Bahkan mereka sanggup membiayai sekolah anak semata wayangnya Erna hingga perguruan tinggi tinggi. Keadaan yang demikian sangat disyukuri oleh Ardi dan Meli dan serta  Erna.

Tetapi insan tidak pernah merasa puas dengan keadaan dan impian insan tiada batasnya. Demikian juga  yang terjadi dengan keluarga kecil ini. Kebahagiaan Meli mulai terusik gara gara ikut arisan yang diadakan oleh ibu ibu dilingkungan desanya. Tiba datang Meli merasa dirinya sangat menderita  saat mendengar dongeng dari sahabat temannya. Julia bercerita gres saja membeli mesin basuh yang paling canggih, mesin basuh yang sanggup mencuci, membilas, mengeringkan dan menyetrika sekaligus. Diana Sari bercerita gres saja mengganti Televisi yang usang dengan Televisi LED 60 inchi selebar layar tancap yang gambarnya lebih jernih, tajam dengan bunyi yang menggelegar.
Putri Diana bercerita habis diberi hadiah suaminya Made Enggel, emas 20 suku berupa kalung, cincin, dan giwang.
Meli tidak tahu harus bercerita perihal apa. Padahal Meli punya angan angan ingin membeli handphone gres tapi belum kesampaian. Karena aib Meli membisu saja dan jadi pendengar yang setia. Sampai program arisan selesai Meli hanya membisu saja tak banyak bicara alasannya yaitu pikirannya melayang entah kemana. Bahkan Meli tidak tahu siapa yang memenangkan arisan hari ini.

Sesampainya di rumah Meli masih uring uringan, masih terngiang di telinganya dongeng kebahagiaan  sahabat temannya di program arisan itu. Malam harinya Meli merayu suaminya Ardi biar mencari penghasilan embel-embel sehingga pemasukannya juga bertambah. Meli menyampaikan ingin membeli handphone gres yang kameranya canggih sehingga sanggup eksis di media umum ibarat sahabat temannya yang lain. Ardi tentu saja bingung, alasannya yaitu tidak biasanya Meli minta ini itu.  Ardi berusaha menjelaskan keadaan mereka berbeda dengan orang lain. Bahwa mereka cukup makan dan sanggup mengkuliahkan anak saja sudah untung. Tapi Meli tidak mau mengerti beliau bahkan ngambek alasannya yaitu keinginannya tidak dipenuhi suaminya.

Esoknya Meli tidak mau berdiri dan memasak apalagi menyiapkan gorengan untuk dijual. Tapi Ardi tetap sabar dan mengerjakan semuanya sendiri. Ardi tetap berjualan di sekolah sambi berpikir bagaimana caranya biar sanggup mengumpulkan banyak uang. Ardi ingat selama ijab kabul mereka belum sempat menyenangkan istrinya alasannya yaitu hanya fokus untuk mencari nafkah.  Setelah berpikir seharian Ardi tetapkan untuk memakai minyak goreng bekas untuk menciptakan gorengan. Sehingga sanggup menghemat biaya dan sanggup menabung untuk membeli handphone baru.

Awalnya Ardi mencampurkan gorengan yang memakai minyak goreng gres dan gorengan yang digoreng dengan minyak goreng bekas. Sehingga murid murid tidak menyadari bahwa mereka telah membeli gorengan yang tidak sehat. Tapi usang kelamaan untuk meraup untung yang lebih besar akhirnya Ardi selalu memakai minyak goreng bekas yang sudah dipakai berkali kali sehingga minyak goreng warnanya keruh dan bau. Anak-anak SD yang membeli gorengan pun banyak yang sakit batuk, tenggorokan sakit dan sariawan.

Melihat keadaan ini para wali murid dan pihak sekolah setuju melaporkan Ardi ke kepolisian. Ardi pun ditangkap dan ditahan di polsek. Ardi gres menyadari kesalahannya tapi apa mau dikata semuanya sudah terlambat nasi sudah menjadi bubur, Ardi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Setelah berkasnya lengkap atau P21 kasus Ardi dilimpahkan di pengadilan. Ardi harus menghadapi persidangan demi persidangan. Atas desakan wali murid Pengadilan tetapkan Ardi bersalah dan harus dihukum. Hukuman yang dijatuhkan kepada Ardi ada 3 pilihan yaitu minum minyak goreng bekas atau dicambuk 50 kali atau membayar denda sebesar 10 juta rupiah.

Setelah berunding dengan istrinya Ardi tetapkan untuk mendapatkan eksekusi minum minyak goreng bekas. Menurut mereka eksekusi itu yang paling ringan. Ardi bersedia minum secangkir besar minyak goreng bekas tetapi sesudah diminum setengah cangkir  minyak goreng rasanya tidak yummy dan baunya busuk Ardi pun membatalkannya dan menentukan eksekusi cambuk.

Ardi pun mulai dicambuk oleh algojo. Tapi gres 23 kali dicambuk Ardi menjerit jerit tidak tahan menahan sakitnya. Ardi akhirnya tetapkan menentukan membayar denda sebesar 10 juta rupiah.  Begitulah akhir menciptakan keputusan tanpa  mempertimbangkan akibatnya. Atau keraguan-raguan dalam tetapkan keputusan juga sanggup membawa bencana.

Pesan moral:
Keputusan yang dibentuk tanpa mempertimbangkan baik buruknya sanggup membawa bencana.
Jangan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Keraguan-raguan dalam mengambil keputusan sanggup menciptakan hidup lebih menderita.
Sumber http://blijengah.blogspot.com

Mari berteman dengan saya

Follow my Instagram _yudha58

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kebimbangan Membawa Tragedi"

Posting Komentar